Sampah Dibiarkan, Negara Bisa Kalah: Lurah Sungai Bambu Desak Aksi Nyata, Bukan Seremoni

Jakarta Utara, 9 Agustus 2026 — Persoalan sampah dan pemanfaatan ruang publik kembali disorot keras. Lurah Sungai Bambu, Syaiful Anwar, S.Ag, menegaskan bahwa pendekatan seremonial tanpa sistem hanya akan memperpanjang masalah.

“Kita ini terlalu sering bicara bersih-bersih, tapi tidak pernah menyentuh sistemnya. Kalau dibiarkan, sampah bukan sekadar kotor—ini bom masalah sosial dan lingkungan,” ujar Syaiful dalam kegiatan kerja bersama “Bakti untuk Negeri” di Ponpes Al-Akbar, PC LDII Tanjung Priok, Minggu (9/8).

Ia secara terbuka mengkritik pola pengelolaan yang masih parsial, termasuk pemanfaatan area kolong tol yang dinilai rawan dikuasai secara personal tanpa pengawasan.

“Ini tidak boleh dibiarkan. Dikelola sendiri-sendiri tanpa aturan jelas itu berisiko. Negara tidak boleh kalah oleh pola seperti ini,” tegasnya.

Menurut Syaiful, momentum kolaborasi antara pemerintah, LDII, dan masyarakat harus menjadi titik balik perubahan, bukan sekadar kegiatan simbolik yang berulang tanpa hasil.

“Kalau serius, kita ubah sampah jadi nilai ekonomi. Tapi kalau setengah-setengah, ya tetap jadi masalah. Pilihannya jelas: berubah atau terus menumpuk masalah,” katanya.

Dengan adanya dukungan CMNP dan izin dari Sudin Lingkungan Hidup, ia menilai tidak ada lagi alasan untuk menunda pembenahan sistem.

“Semua sudah ada—dukungan, izin, masyarakat. Tinggal kemauan. Mau bergerak atau tetap membiarkan,” ujarnya lugas.

Nada kritik serupa disampaikan Anggota FKUB, Drs. KH Masyruf Sudarto. Ia menilai kerukunan selama ini terlalu sering berhenti di level simbolik.

“Kita terlalu sering merayakan kerukunan di atas panggung, tapi lupa membumikan di lapangan. Akhirnya, kerukunan jadi slogan kosong,” kata KH Masyruf.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas elemen seperti yang terjadi hari ini justru menunjukkan makna sejati kerukunan.

“Kalau tidak ada aksi, kerukunan itu ilusi. Hari ini kita lihat—kerukunan itu bekerja, bukan sekadar dibicarakan,” tegasnya.

Menurutnya, keterlibatan pemerintah, masyarakat, hingga lintas agama dalam satu ruang kerja bersama adalah kekuatan sosial bangsa yang kerap diabaikan.

“NKRI ini kuat bukan karena slogan, tapi karena masyarakatnya mau bekerja bersama,” ujarnya.

KH Masyruf juga mengingatkan bahwa perubahan sosial tidak hanya soal fisik, tetapi juga dimensi spiritual.

“Kita sibuk membersihkan lingkungan, tapi sering lupa membersihkan diri. Padahal akar masalahnya ada di sana,” katanya.

Ia pun menutup dengan catatan tegas terhadap peran organisasi masyarakat.

“LDII di sini memberi contoh: tidak berhenti di wacana. Ini yang seharusnya dilakukan semua elemen—hadir, bekerja, dan memberi dampak,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Comment